*BARRU, Sulawesi Selatan* – Jarak 15 kilometer setiap pagi dengan mengayuh sepeda kumbang Raleigh di jalan yang belum beraspal. Tanpa sarapan. Dengan satu tujuan: sekolah.
Itulah potret perjuangan seorang anak dari Kampung Ele, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru, pada tahun 1980. Demi menuntut ilmu di SMA Barru, ia harus berangkat jauh sebelum Subuh dan menjadikan Masjid Ammaro sebagai tempat persinggahan untuk menitipkan baju sekolahnya.
Perjalanan itu tidak mudah. Jalanan masih sederhana, tenaga terkuras, dan keterbatasan ekonomi mewarnai hari-harinya. Namun keterbatasan itu tidak menyurutkan langkahnya.
"Hari demi hari, perjalanan yang penuh keterbatasan itu tetap dijalani. Bukan karena keadaan mudah, tetapi karena ada keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan," ungkap sumber yang menceritakan kisah tersebut.
Puluhan tahun berlalu, perjuangan itu berbuah. Anak kampung Ele yang dulu mengayuh sepeda sejauh 15 kilometer itu kini telah mencapai puncak karier akademik. Ia dikukuhkan sebagai Profesor atau Guru Besar.
Kisah ini kini menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda di Barru dan sekitarnya. Bahwa jauhnya jarak, minimnya fasilitas, dan sulitnya ekonomi bukanlah alasan untuk berhenti mengejar pendidikan.
"Dari 15 kilometer perjalanan dengan sepeda kumbang, lahirlah sebuah perjalanan panjang menuju mimbar akademik dan Guru Besar," tulis Muhaemin dalam catatannya.
Kisah perjuangan dari Kampung Ele ini diharapkan dapat menjadi inspirasi. Bahwa dengan kerja keras dan keyakinan, anak dari kampung mana pun berpeluang menggapai cita-cita tertinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar