BARRU - Ironi menyelimuti warga Jalan A. Abd. Tenrisessu, Barru. Di saat si jago merah melalap sebuah bangunan pada selasa kemarin, harapan warga pada teknologi yang baru saja diresmikan pemerintah justru berujung zonk.
Nomor darurat 112 yang digadang-gadang sebagai penyelamat di masa kritis, justru tak dapat dihubungi.
Padahal, belum genap dua minggu sejak Bupati Barru meluncurkan layanan ini dengan penuh seremoni pada 27 Januari 2026.
Panggilan terintegrasi yang dijanjikan bakal mempercepat respons darurat itu nyatanya hanya menjadi pajangan di layar ponsel warga yang panik.
Kekecewaan mendalam dirasakan warga yang menyaksikan api berkobar tanpa kepastian bantuan. Upaya menghubungi 112 berkali-kali menemui jalan buntu.
"Kami coba hubungi 112, tapi tidak aktif. Untuk apa diluncurkan kalau di saat genting seperti ini malah tidak bisa diandalkan?" cetus salah seorang warga di lokasi kejadian dengan nada kesal.
Warga mempertanyakan kesiapan infrastruktur di balik peluncuran layanan tersebut. Mereka menilai, peluncuran nomor darurat seharusnya dibarengi dengan kesiapan teknis 24 jam, bukan sekadar menggugurkan kewajiban program kerja atau sekadar pencitraan digitalisasi daerah.
Sistem 112 merupakan standar nasional yang sudah diimplementasikan di berbagai kota besar untuk memangkas birokrasi penanganan bencana.
Namun, insiden di Barru ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah setempat.
Masyarakat kini menagih janji:
Perbaikan Segera: Jangan sampai sistem error menjadi alasan klasik saat nyawa dan harta benda jadi taruhan.
Evaluasi Total: Apakah kendala ada pada server, operator, atau koordinasi antar-instansi (Damkar, BPBD, Kesehatan).
Transparansi: Pemerintah diminta jujur mengenai kesiapan layanan ini sebelum mempromosikannya secara masif kepada publik.
Kejadian ini menjadi pelajaran mahal bahwa keselamatan warga tidak bisa dijamin hanya dengan peluncuran aplikasi atau nomor cantik, melainkan dengan kesigapan nyata di lapangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar