Iklan

Wakil Bupati Soppeng Hadiri Buka Puasa Bersama Mantan Bupati, Ribuan Warga Padati Laburawung

2026-03-04, 15.21 WIB Last Updated 2026-03-04T09:34:21Z
masukkan script iklan disini


SOPPENG — Wakil Bupati Soppeng, Ir. Selle KS Dalle, menghadiri acara buka puasa bersama di kediaman mantan Bupati Soppeng dua periode, Andi Kaswadi Razak, di Laburawung, Kota Soppeng, Jumat (27/02/2026).

Semula, agenda tersebut diperkirakan berlangsung sederhana dan terbatas bagi kerabat serta sahabat dekat. Namun, suasana yang tampak justru di luar perkiraan. Sekitar 500 meter sebelum mencapai lokasi, arus lalu lintas telah dialihkan oleh petugas Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) akibat membludaknya kendaraan yang terparkir hingga ke badan jalan.

Ribuan warga dari berbagai lapisan masyarakat hadir secara sukarela. Tanpa mobilisasi, tanpa sekat sosial, mereka datang dengan kesadaran sendiri. Fenomena ini menjadi penanda kuatnya ikatan sosial yang terbangun selama masa kepemimpinan Andi Kaswadi Razak.

Kehadiran Wakil Bupati Soppeng di tengah-tengah masyarakat semakin menegaskan bahwa momentum tersebut bukan sekadar agenda personal, melainkan ruang silaturahmi yang mempertemukan berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat. Turut hadir Komandan Kodim (Dandim), Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakandepag), para kepala SKPD lingkup Pemerintah Kabupaten Soppeng, tokoh masyarakat, tokoh adat, organisasi kemasyarakatan, hingga insan pers.

Suasana kebersamaan semakin terasa dengan kehadiran Ketua Majelis Pendiri Perkumpulan Rumpun Wija Pemersatu Adat Nusantara (PERWIRA ADAT NUSANTARA), Arham MSi La Palellung, yang tampak berjalan berdampingan dengan Andi Tantu Datu Galib, figur adat yang dikenal aktif melestarikan kebudayaan Bugis di Kabupaten Soppeng. Kebersamaan tersebut menjadi simbol harmoninya nilai adat dan dinamika pemerintahan modern.

Arham menilai, kehadiran ribuan warga merupakan cerminan apa yang dalam tradisi Bugis-Soppeng disebut sebagai passeddingeng ati — ketika hati masyarakat berkumpul dengan sendirinya.

“Ini bukan soal nostalgia kekuasaan, tetapi tentang hubungan sosial yang dirawat dengan adab dan siri’,” ujarnya.

Menurutnya, dalam adat Bugis, pemimpin sejati tetap dikenang meski tak lagi menjabat. Jabatan memiliki batas waktu, tetapi ingatan masyarakat jauh lebih panjang umurnya.

“Adat mengajarkan, jangan memutus akar dari jalan yang pernah membesarkan kita. Kekuasaan bisa berakhir, tetapi jejak sosial tidak mudah dihapus,” tuturnya.

Acara buka puasa berlangsung hangat dan tanpa sekat. Warga duduk bersisian, berbagi hidangan, dan berbincang dalam suasana kekeluargaan. Tidak tampak jarak antara yang pernah memerintah dan yang pernah diperintah. Nilai-nilai adat Bugis-Soppeng terasa hidup, menjaga harmoni melalui ingatan dan rasa hormat.

Momentum di Laburawung itu menjadi cermin bahwa di negeri beradat, kepemimpinan tak hanya diukur dari jabatan yang disandang, tetapi dari kedekatan dan ketulusan yang membekas di hati masyarakat.

Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini